Saya lagi iseng. Kalau lagi iseng kayak gini, sukanya ngarang
cerita. Sayangnya, gak pernah tamat. Dari hari Sabtu malam yang gerimis kemarin
(saya gak terlalu yakin kalau gerimis ini adalah tangisan para jomblo di malam
minggu. Lagipula bagi kaum jomblo, gak ada istilah malam minggu). saya pengen
ngarang cerita sampai tamat. Dan Senin pagi yang juga hujan ini akhirnya
berhasil saya tamatkan. Hore!!! *lebay*
Anyway, balik lagi soal ngarang mengarang, saya juga suka
melakukan sesuatu yang menginspirasi saya untuk mengarang. Salah satunya dengan
membaca. Akhir- akhir ini, saya suka baca fanfic Daniel Padilla. Buat yang gak tahu, dia adalah aktor dan
penyanyi kece dari Filipina dan buat yang penasaran, silakan googling. Kebanyakan
ceritanya ditulis dengan bahasa Tagalog dan Inggris. Jadi kepikiran pengen
ngarang fanfic tentang dia dalam bahasa Indonesia. Untuk postingan kali ini,
saya pengen ngarang fanfic tentang pacar (delusi) saya itu.
Kalau
ceritanya garing dan alurnya ngaco, maaf- maaf aja. Masih amatiran ahayyy. So,
check it down.
Disclaimer:
fanfic ini hanya imajinasi belaka.
Hujan
Bikin Baper
Hujan selalu datang di
saat tak tepat. Hari ini, karena
keributan yang sengaja diciptakan Daniel, musuh abadiku sepanjang masa, aku
terpaksa pulang telat karena dihukum membersihkan toilet. Iya, Daniel Padilla. Cowok (sok) cakep,
penyanyi dan aktor terkenal itu. Panjang ceritanya, tapi aku ringkas aja deh
biar kamu ngerti kenapa aku benci banget sama mahluk yang digila- gilai cewek-
cewek se- Filipina itu. Tadi pagi, pas ujian biologi, si kampret
itu gangguin aku. Aku tahu persis, dia cuma niat gangguin aku doang. Soal Biologi buat dia mah kecil. Lebih gampang daripada ngerayu cewek- cewek.
(soal ngerayu cewek, dia mah gak butuh usaha. Dikasih senyuman aja, udah
pada melting.) Entah cewek- cewek emang gampang dibego- begoin atau si Daniel
aja yang kelewat cerdas dalam menggombal -_-)
Ah, ngeselin banget, kan?
Hujan, tolonglah cepat berhenti!!!! Aku lapar dan kedinginan, teriakku pada
hujan. Sebodo amat ada yang bilang aku gila. Toh, anak- anak sekolahan sini
udah pada bubar dari dua jam yang lalu.
“Cewek aneh! Ngapain teriak-
teriak sama hujan, emang dia ngerti!” dia duduk di sebalahku. Aaaargh, ngapain sih siluman kampret ini
datang kemari. Bikin tambah bete aja?!!!!
“Berisik! Mendingan kamu
diam, atau pergi dari sini!” desisku. Sekilas, aku lihat dia tersenyum. Manis
juga. Aaaargh, apa sih yang kupikirkan? Hujan bikin aku makin frustasi.
Dia mengabaikan
peringatanku. Malah mengeluarkan gitar dari sarungnya dan bernyanyi. Kalau gak
salah, judulnya ‘Prinsesa’.
“Dalhin mo ako sa iyong
palasyo
Maglakad tayo
Sa hardin ng ‘yong
kaharian
Wala man akong pag-aari
Pangako kong habang buhay
Kitang pagsisilbihan
O aking prinsesa ah
Prinsesa, prinsesa,
prinsesa
Prinsesa, prinsesa,
prinsesa.”
Sebenarnya, liriknya manis
banget. Tentang seseorang yang begitu memuja seseorang yang dicintainya. Dia bilang
kalau dia jomblo dan ingin memiliki dan menyenangkan cewek itu. Sweet sih, tapi
penuh dengan modus. Pasti penuh modus. *tersenyum sinis*
“Dingin ya?” seru Daniel.
Dia berhenti bernyanyi dan meletakkan gitarnya di lantai.
Aku hanya mendelik. Dia hanya
mencoba menggodaku. Hujan begini, mana mungkin aku tidak kedinginan? Kecuali
aku berada di ruangan yang ada mesin pemanasnya. Kenyataannya, aku dan dia berada di bangku panjang di depan kelas.
“Pakai jaketku,” dia
melepas jaketnya dan dia benar- benar memakaikan jaketnya padaku. Aku
mengiyakan saja diperlakukan seperti itu. Udara terlalu dingin dan aku sedang tidak
ingin berkonfrontasi. Bukan karena aku senang diperlakukan seperti itu olehnya.
Aku kedinginan dan lapar. Sudah kubilang, kan?
“Masih kedinginan juga,
ya?” dia menatapku dengan lembut. Ah, ini pasti halusinasiku karena kelewat
frustasi sama hujan.
Kemudian, dia melepaskan
kemejanya. O My God….. body-nya itu loh kotak- kotak, OMG, OMG, melihatnya
seperti itu, membuatku sesak nafas. Padahal, bukan sekali dua kali, aku
melihatnya bertelanjang dada dan baru kali ini aku merasa sesak nafas. (pas
pelajaran renang. Jangan mikir mesum!!!!)
“Mau ngapain?” teriakku
galak.
“Santai napa,” dia masih
tersenyum dan sepertinya aku kembali terhipnotis. “Body heat, biar kamu gak
kedinginan lagi. Kan repot kalau kamu sakit. Ingatkan kalau besok kita ada
presentasi? Aku gak mau dapat nilai jelek karena kamu sakit,” dan dia
memelukku.
OMG, OMG, aku merutuk
dalam hati. Tapi cuma sesaat. Setelahnya aku merasa hangat.
Sayup- sayup, kudengar dia
bernyanyi lagi. Kalau tidak salah, judulnya It Might Be You.” Suaranya yang begitu
lembut membuatku merasa tenang. Seperti zat theanine yang memacu kerja otak
jadi lebih rileks.
It’s you, it’s you
I’ve been waiting for all
of my life
Maybe it’s you (it’s you),
maybe it’s you (it’s you)
I’ve been waiting for you all
of my life
Maybe it’s you, maybe it’s
you
I’ve been waiting for all
of my life
Kira- kira dua jam
kemudian, aku terbangun. Dan di sebelahku Daniel juga tertidur dan masih
memelukku.
OMG, rutukku lagi. Aku
berusaha melepaskan diri dari pelukannya. Kan gawat kalau ada yang lihat. Bisa
jadi gosip besar, nih. Tahukan kalau cowok di sebelahku ini adalah artis
terkenal???
“Hey, kenapa,” dia
terbangun juga tapi tidak berusaha melepaskan pelukannya. Malah mempererat
pelukannya. Sesak nafas nih, sesak nafas!!!!
“Lepasin!” teriakku.
Badanku masih sibuk memberontak.
“Iya, iya,” akhirnya dia
mau juga melepaskan pelukannya.
“Sorry- sorry,” katanya
penuh penyesalan. Sepertinya dia tidak sedang cari gara- gara denganku. “Kalau
baru bangun tidur, aku suka ngaco.”
“Gak apa- apa,” sahutku
pelan. Entah karena feromonnya yang kelewat dahsyat atau efek bangun tidur, aku
merasa aman dengannya.
“Hujannya sudah reda, ayo
pulang,” dia memakai kemejanya, berdiri dan membantuku berdiri. Kami berjalan pelan ke parkiran.
“Baby, you don't have to
worry.
'Coz there ain't no need
to hurry.
No one ever said that
there's an easy way.
When they're closing all
the doors.
And they don't want you
anymore.
This sound funny but I'll
say it anyway.”
Lagi- lagi dia bernyanyi.
Judulnya “With a Smile”. OMG, sepertinya feromonnya benar- benar merasuk ke
seluruh sel- sel di otakku.
*Sepertinya, aku terbawa
perasaan, haduh*
-Terpaksa ditamatkan, gak
ada ide lagi, soalnya-