Mungkin judulnya agak berlebihan dan terkesan sinis dan skeptis.
Tapi aku punya alasan kenapa punya pendapat begitu.
Contoh sederhananya gini:
Ketika awal semester, anak kuliahan pasti sibuk nanyain berapa
IP dan berapa nilainya. Kamu tahu teman kamu dapat A. Kamu tahu pasti teman
kamu gak pintar- pintar amat untuk mata kuliah yang satu itu. Sementara kamu
yang menguasai banget pelajaran tersebut malah dapat C. Kamu pasti merasa
gak adil, bukan? Kamu merasa dosen kamu gak adil dalam memberi nilai.
Tapi coba deh, lihat nilai kamu yang lain. Mungkin kamu mendapat
A untuk mata kuliah yang lain- yang sebenarnya kamu tidak menguasainya. Apakah
kamu akan protes? Tindakan paling wajar, pasti tidak. (Belum pernah saya
mendengar, apalagi melihat mahasiswa yang protes dikasih nilai A) See, bisa
lihat, kan? Keadilan gak pernah ditemukan di dunia ini.
Ya gitu deh ........itu gambaran tentang manusia. Orang akan
merasa adil ketika apa yang diterimanya adalah sesuatu yang dia mau sekalipun
apa yang dia mau mengakibatkan ketidakadilan bagi orang lain. Dan ketika segala
sesuatu yang diharapkan tidak terjadi, orang akan merasa tidak adil padahal,
memang seharusnya seperti itu keadilan yang harus diterimanya.
Contohnya sering kita lihat di televisi.
Seorang koruptor (saya lupa namanya) yang divonis beberapa tahun
lamanya (saya juga lupa) nangis- nangis karena hukuman yang diterimanya, dia
merasa hukum gak adil. Gak adil buat keluarganya. Bagaimana dengan anak-
anaknya yang masih kecil? Deelel.
Terus, apa kabarnya dengan rakyat yang telah dirugikan????
Kesimpulan yang bisa saya ambil, keadilan bergantung pada
bagaimana pandangan seseorang terhadap suatu masalah. Karena pandangan orang
macam- macam, tentu keadilan juga bermacam- macam. Adil bagi saya belum tentu
adil bagi kamu dan sesuatu yang kamu anggap gak adil, sebenarnya adil, tapi
kamu merasa gak adil.
Terus, apakah keadilan yang sebenarnya itu ada??? Kalau aku
bilang keadilan yang sebenarnya bisa kita alami setelah kita mati, setuju gak?
Harusnya sih setuju.
*yee,.... malah maksa*
Soalnya, setelah mati segala perbuatan baik amal maupun dosa.
Dan kita akan mendapat tempat sesuai dengan amal yang telah kita lakukan.
(katanya sih gitu. Saya belum pernah meninggal, sih.) Jujur, saya gak terlalu
paham soal beginian. Terlalu berat ngomongin hal kayak gitu.
Yang mau saya sampaikan adalah, mungkin sulit mendapat keadilan
di muka bumi ini. Tapi keadilan itu bisa diciptakan kalau kita mau bertenggang
rasa terhadap orang lain. Kalau kita bisa bertenggang rasa, kita tidak akan
menyakiti orang lain karena sudah tau rasa sakit itu walaupun belum pernah
merasakan.
Ya gitu deh....
Pendek kata, kalo gak mau disakiti jangan menyakiti. Segala
sesuatu yang kita lakukan akan mendapat balasan.
Apa yang kita tabur, itu yang kita tuai.
Barang siapa yang menabur angin akan menuai badai.
Keadilan berhubungan dengan karma.
Pasti ada yang nanya, “Gimana dengan orang dianiaya padahal dia gak
pernah berbuat kejam?”
Jawabannya, apa yaa..... (mikir dulu seabad)
Kita gak pernah benar- benar tahu tentang orang lain. Kita pasti
pernah bertemu dengan orang jahat, tapi apakah kita tahu dia punya sisi baik?
Kita juga pasti mengenal orang baik. Pastinya dia juga punya sisi jahat.
So, kita gak bisa bilang orang itu tidak pantas diperlakukan
seperti itu.
Mungkin orang tuanya tidak baik maka anaknya diperlakukan tidak
baik.
Who knows?
Gak penting juga tau. Yang terpenting, perlakukan orang lain
seperti diri sendiri.
Mudah- mudahan dengan begitu keadilan bisa kita temukan. Terlalu
muluk, memang. Paling tidak niat saya menulis bisa jadi langkah awal.
Setuju?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar