Hari telah
jauh malam, tapi saya masih sibuk di depan laptop. Gara insomnia akut. Mata tak kunjung terpejam walau badan telah lelah.
Stop,
wait, saya ngetik apaan sih?????? –sambil menekan tombol backspace berulang-
ulang-
Daripada
efek insomnia berdampak pada kesehatan mental gara- gara ngelamunin sesuatu
yang gak penting , mending mikir tulisan apa yang mau diposting di blog.
*Insomnia apaaan? Sekarang ini masih jam setengah sebelas malam.*
Sudahlah, tak perlu membahas jam berapa sekarang. Kali ini, di otak saya terlintas kata‘kenapa'.
*Kenapa? –teringat
dengan iklan biskuit- entah tahun kapan itu-*
Anyway, ngomongin tentang kata ‘kenapa’, saya pengen share tentang menyebalkannya kata
itu. Seolah kata itu diciptakan untuk menyalahkan seseorang. Memang sih fungsi
dari kata ‘kenapa’ atau kata bakunya ‘mengapa’ adalah untuk menanyakan alasan,
tapi untuk situasi tertentu kata ini
lebih berfungsi untuk menyalahkan dan mengintimidasi lawan bicara .
Mau bukti?
Misalnya ketika saya melakukan kesalahan, katakanlah
ketika mencuci piring saya gak sengaja memecahkan piring , mama bertanya,
“Kenapa kamu mecahin piring?”
Memang, kalimatnya kalimat tanya namun intonasinya terdengar
menyalahkan. Pragmatik, gitu istilah linguistiknya. Apa yang dimaksudkan tidak
sama dengan apa yang dikatakan.
Dalam hati saya bilang, ‘siapa yang niat mecahin piring?’
Yep, saya mengsayasalah, sekalipun sama sekali gak
bermaksud melakukan itu. Sayatahu, saya harusnya
lebih hati- hati. Saya kan sudah mengakuinya. Bukankah itu cukup?
Well, mungkin tidak. Tapi cobalah ingat- ingat peribahasa
yang satu ini, ‘nasi sudah menjadi bubur.’ Segala sesuatu yang telah terjadi
tidak bisa kembali seperti semula. Jadi mau gimana lagi? Emangnya sayabisa buat apa coba? Mau nyulap beling
berubah jadi piring? Emangnya sayasehebat Deddy Cobuzier, apa? Deddy Cobuzier
juga belum tentu bisa ya, kan?
Yeah.... sayajadi galau cuma gara- gara sebuah piring.
Sepele amat ya? Ngeributin satu piring pecah. Please deh.... di rak kan masih ada ada selusin lagi!
Terus mama saya jawab, “Yee, dinasehatin malah ngeyel!
Mama nasehatin kamu supaya bisa lebih hati- hati! Kalo kamu terus ceroboh,
piring kita bisa habis. Kalau udah abis, kita mau makan pake apa?”
Pake tangan, sahut saya santai. Mama mendelik. Saya cengar-
cengir, gak zamannya lagi kalo diomelin pasang tampang takut.
Hehehe, untuk kalimat yang terakhir jangan diaminkan. Itu
hanya ekspresi sebel saya karena setelah dimarahin, saya cuma bisa ngomel-
ngomel dalam hati.Mau nyari pelampiasan juga susah, soalnya adik saya satu-
satunya sangarnya ngalahin preman pasar.
Ya, maaf. Kata saya akhirnya, daripada tambah diomelin.
Harapannya supaya mama berhenti ngomel. Eh, yang terjadi mama makin
memperpanjang omelan.
Bukannya harusnya senang, ya?
Harusnya gitu. Tapi sayang, kata- katanya belum nyampe
titik, tapi diakhiri koma. Ternyata kalimat itu masih punya anak. Tahukah kamu
apa itu? ‘beresin semuanya, awas kalo masih ada pecahan beling!’
Iya, iya.... gak
seharusnya sayabersungut- sungut. Tahu.... harusnya lebih berhati- hati biar
gak diomelin melulu.
Itu kasus sederhana tapi gak berarti sepele karena
membereskan pecahan beling bukan termasuk PR anak sekolah apalagi job desk
menteri hukum dan HAM.Apalagi kasus hukum di negara ini sekusut baju seragam
yang belum disetrika.
*Maksudnya? –Absurd, seabsurd yang punya blog-*
Saya gak absurd, hanya sangat absurd.
*-_- - gak tahu mau komen apaan*
Okeh, back to the topic. Dengan menulis postingan ini, saya
gak bermaksud membela diri. Kayak yang saya bilang tadi, hanya sesuatu yang
menurut saya perlu untuk dibagi. Bukan pecahan piring, ya. Tapi opini saya tentang
kata ‘kenapa’ itu
Bahwa ketika seseorang bersalah, gak ada gunanya
dimarahin terus- terusan. Gak akan menyelesaikan masalah, hanya bikin bete
kedua belah pihak.
Kemarahan gak menyelesaikan masalah. Adakalanya lebih
baik memaafkan begitu saja. Karena gak biasa aja orang salah gak dimarahin.
Dan karena gak biasa malah bikin dia sadar bahwa apa yang
dilakukannya adalah sebuah kesalahan. Dan dia akan berusaha untuk lebih baik
tanpa harus berjanji pada siapapun.
Well, itu penelitian saya terhadap beberapa orang. Gak
berarti berlaku bagi semua orang. Jadi kalo ada yang gak setuju, ya gak apa-
apa.Tapi harusnya setuju aja, karena sedelapan itu gak tercantum di Kamus Besar
Bahasa Indonesia. Bahkan, Google translator pun gak bisa menerjemahkannya ke
bahasa apapun. Kalau gak percaya, coba aja sendiri.
*Makin absurd nih, yang lagi ngetik*
Ya sudahlah, sebelum dikatain makin absurd lagi, mending
saya sudahi saya postingan ini. Laptop sudah mengantuk, lelah, nyala mulu dari
sore tadi.
Magandang gabi, hanggang sa susunod. Matutulog na ako.J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar